https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

“Sehari Tanpa Layar, Seumur Hidup Kenangan”: LAZ Batam Ajak Anak-anak Kembali ke Dunia Nyata di Hari Anak Nasional

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kompasindonesianews.comBatam, 27 Juli 2025Di tengah gemuruh zaman digital, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam menghadirkan oase yang menyegarkan bagi anak-anak kota Batam. Bertempat di Alun-Alun Engku Puteri, LAZ Batam menggelar peringatan Hari Anak Nasional 2025 dengan sebuah pesan yang kuat dan relevan: kembalikan masa kecil anak-anak kepada mereka.

Dengan mengangkat tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat, Menuju Indonesia Emas 2045”, perayaan ini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa masa depan bangsa ditentukan dari cara kita memperlakukan anak-anak hari ini. Kegiatan ini dirancang dengan semangat “Sehari Tanpa Gadget”, mendorong anak-anak untuk melepaskan gawai dan menyelami kembali dunia nyata—dunia yang bisa disentuh, dirasakan, dan dijalani dengan utuh.

Ketua LAZ Batam, Syarif, dalam sambutannya menyampaikan kegelisahan sekaligus harapannya terhadap generasi muda yang tumbuh di tengah banjir informasi digital. “Kami ingin menghadirkan kembali ruang-ruang interaksi manusiawi, di mana anak-anak bisa bermain tanpa batasan layar, membangun keberanian, dan mengenal dunia lewat langkah kaki mereka sendiri,” ujarnya.

Sejak pagi, tawa dan riuh rendah suara anak-anak memenuhi alun-alun. LAZ Batam menyulap ruang publik itu menjadi arena nostalgia yang hidup—ada senam pagi bersama, lomba bakiak, gobak sodor, tarik tambang, hingga engklek. Permainan tradisional yang dulu mewarnai masa kecil generasi terdahulu kini menjadi pengalaman baru bagi generasi digital.

Wajah-wajah polos itu terlihat begitu merdeka—berlari tanpa takut jatuh, tertawa tanpa batas, dan berinteraksi tanpa filter. Bahkan para orang tua yang hadir pun ikut larut dalam kebahagiaan. Lestari, salah satu ibu peserta, menyeka air matanya sambil tersenyum, “Hari ini saya merasa pulang ke masa kecil saya. Anak-anak saya seperti baru mengenal arti bermain sesungguhnya. Saya sadar, tidak semua hal bisa digantikan oleh teknologi.”

Tak hanya menjadi ajang hiburan, kegiatan ini juga sarat nilai edukatif. Di sela-sela permainan, anak-anak diajak memahami makna gotong royong, empati, serta pentingnya menjalin relasi sosial secara langsung. Budaya lokal diperkenalkan kembali sebagai bagian dari identitas dan akar yang harus dijaga.

Dr. Rini Kartikasari, pengamat pendidikan anak yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyebut inisiatif LAZ Batam sebagai bentuk intervensi sosial yang efektif. “Anak-anak saat ini banyak kehilangan kemampuan berinteraksi secara alami karena terlalu banyak waktu di depan layar. Melalui kegiatan ini, mereka belajar menghadapi konflik kecil, belajar bekerja sama, bahkan belajar kalah dan bangkit. Semua itu adalah bekal penting dalam membangun ketangguhan karakter.”

Acara ditutup dengan pembagian hadiah simbolis, bukan untuk memenangkan kompetisi, tetapi sebagai penghargaan atas keberanian mereka🦜 melepaskan gadget barang sehari, dan memilih hadir sepenuhnya di dunia nyata.

Namun hadiah sesungguhnya justru tidak kasatmata—yakni kenangan yang tertanam dalam jiwa, pengalaman yang membentuk kesadaran, dan harapan baru tentang dunia yang lebih manusiawi. Dalam tawa anak-anak hari itu, terpatri pelajaran penting bagi kita semua: masa depan bangsa dibangun bukan hanya lewat teknologi, tapi lewat perhatian, pelukan, dan kehadiran nyata dari orang-orang dewasa di sekeliling mereka.

Dan mungkin, dari satu hari tanpa layar itu, akan lahir satu generasi yang lebih utuh: generasi yang tahu bahwa dunia bukan hanya sesuatu yang bisa digeser dengan ibu jari, tetapi sesuatu yang harus dijalani dengan seluruh hati.(Nursalim Turatea).

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *