Kabupaten Sleman – Kompassindonesianews.com Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melalui Dianas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman kembali menggelar bedah buku yang berjudul ” Salah Kaprah Aksara Jawa ” bertempat di Joglo Gunodiharjo, Susukan, Kalurahan Margokaton, Kapanewon/Kecamatan Seyagan Selasa 29 Juli 2025.
Acara bedah buku ini dilakukan sebagai wujud komitmen dalam melestarikan budaya lokal, dan memperkuat literasi masyarakat terhadap Aksara Jawa.
Kegiatan bedah buku ini, diikuti sebanyak 50 orang peserta yang berasal dari kader PKK, perwakilan masyarakat Kalurahan Margokaton.
Hal itu disampaikan oleh, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Rahman Subadi, S.IP.,M.Si, melaporkan bahwa acara bedah buku ini bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat terhadap Aksara Jawa serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal,” ucapnya.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan peran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan sebagai penerbit pemerintahan yang turut menerbitkan buku – buku berbahasa Jawa dengan kekhasan Kabupaten Sleman,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Dra.Shavitri Nurmala Dewi, dalam sambutanya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya pelestarian Aksara Jawa dan pentingnya menjaga eksistensi Aksara Jawa di tengah arus globalisasi yang kian masif,” tutupnya.
Acara bedah buku kali ini dimoderatori oleh, Bagus Eko Nur Saputro, sekaligus selaku Pustakawan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. Ia menjelaskan bedah buku Salah Kaprah Aksara Jawa ini, kami menghadirkan dua orang narasumber yaitu, Syukron Arif Muttaqin, dan Setya Amrih Prasaja,” jelasnya.
Syukron Arif Muttaqin, adalah seorang politisi dan sekaligus Sekretaris Partai Kabangkitan Bangsa (PKB) menyoroti menurunnya penggunaan Aksara Jawa di masyarakat. Syukron menghimbau perlunya peningkatan porsi pembelajaran Aksara Jawa di sekolah, serta melibatkan sanggar budaya dalam pelestariannya. Beliau juga menekankan pentingnya digitalisasi Aksara Jawa agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Sementara itu, Setya Amrih Prasaja, selaku Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Kundha Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus penyusun buku Salah Kaprah Aksara Jawa, memaparkan pengaruh aksara latin dari luar negeri yang menyebabkan pergeseran dalam penggunaan Aksara Jawa.
Lanjutnya menjelaskan bahwa Aksara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tidak hancur atau tidak abadi.
Dalam pemaparannya, Setya juga mengangkat nilai filosofi dari cerita Ajisaka yang mengajarkan pentingnya kompromi dan keharmonisasi sebagaimana tergambar dalam asal usul Aksara Jawa yang dikenal dengan sebutan ” Mogobothongo “.
Lebih lanjut, ia menambahkan kegiatan bedah buku ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menghidupkan kembali semangat pelestarian Aksara Jawa. Serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kekayaan budaya daerah, sebagai bagian dari identitas nasional,” pungkasnya.(JN)















