kompasindonesianews.com – Batam – Bahasa Melayu, sebagai identitas utama masyarakat Melayu di Kota Batam, menghadapi risiko pergeseran ke bahasa Indonesia jika tidak ada perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat. Tokoh Melayu, Amsakar Ahmad, menegaskan bahwa kelestarian bahasa ini harus menjadi prioritas, terutama bagi generasi muda yang menjadi penerus budaya lokal.
“Bahasa Melayu bukan hanya alat komunikasi sehari-hari, tetapi simbol identitas dan jati diri masyarakat kita. Tanpa langkah nyata, generasi muda hanya akan mengenalnya secara pasif, dan lambat laun bahasa ini akan hilang,” ujar Amsakar Ahmad saat menyampaikan pidatonya dalam forum budaya yang dihadiri tokoh masyarakat, akademisi, dan pemuda lokal. Ia menekankan bahwa pemerintah perlu mendukung pembelajaran bahasa Melayu melalui regulasi formal, termasuk pengintegrasian bahasa Melayu ke dalam kurikulum sekolah dan pelatihan guru agar proses pembelajaran berjalan efektif.
Bahasa Melayu selama ini bertahan melalui keluarga, masyarakat, dan kegiatan tradisi nonformal. Namun, dominasi bahasa Indonesia di ranah publik dan sekolah menunjukkan bahwa peran keluarga dan masyarakat saja belum cukup. Data dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam menunjukkan bahwa lebih dari 70% remaja Melayu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama di sekolah, sementara bahasa Melayu masih terbatas penggunaannya di rumah dan acara adat, mencerminkan fenomena selektivitas domain dalam penggunaan bahasa.
Pengamat budaya, Dr. Hanafi dari Universitas Riau, menambahkan bahwa bahasa Melayu memiliki akar sejarah yang sangat kuat di Kepulauan Riau. Kehilangan bahasa berarti hilangnya warisan budaya, nilai-nilai adat, dan memori kolektif masyarakat. “Bahasa Melayu bukan sekadar komunikasi, tetapi juga cerminan sejarah dan identitas masyarakat Melayu,” jelasnya.
Amsakar Ahmad menekankan bahwa pelestarian bahasa Melayu harus melibatkan kolaborasi aktif antara pemerintah dan masyarakat. Penguatan pendidikan formal, revitalisasi seni dan tradisi, serta penyelenggaraan kegiatan budaya yang menggunakan bahasa Melayu menjadi strategi penting agar generasi muda tidak hanya mengenal bahasa ini sebagai bahasa ibu, tetapi juga mampu menggunakannya secara aktif dan kritis.
“Kegiatan budaya dan seni yang menggunakan bahasa Melayu akan menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan generasi muda terhadap bahasa mereka sendiri. Ini bukan sekadar soal bahasa, tetapi soal identitas dan kelangsungan budaya Melayu di Batam,” ujar Amsakar Ahmad menutup pidatonya.
Dengan kesadaran kolektif dari masyarakat dan dukungan pemerintah, bahasa Melayu di Batam diharapkan tetap lestari, menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, serta memperkuat identitas budaya Melayu bagi generasi sekarang dan yang akan datang. (Redaksi).















