Lampung Tengah, Kompassindonesianews – Dua warga Kabupaten Lampung Tengah yang diduga menjadi korban janji manis dalam Program MBG Presiden Prabowo Subianto menyambangi Polda Lampung guna melaporkan tindak pidana penipuan investasi terhadap penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Sabtu 29 November lalu.
Keduanya diperkirakan merugi hingga ratusan juta rupiah, kini kedua korban yakni Melia dan Nova Anita Sari telah secara resmi melaporkan perbuatan tindak pidana penipuan yang dilakukan oleh seorang pria berinisial VBW ke Mapolda Lampung atas dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan.
Gunawan Prihartono selaku penasihat hukum kedua korban menjelaskan, dirinya mendampingi kliennya untuk melakukan pelaporan terhadap seorang terduga pelaku penipuan serta penggelapan dana dengan nilai kerugian hingga ratusan juta rupiah. Dengan dalih Investasi Dapur MBG serta bagi hasil yang membuat kliennya tergiur iming-iming palsu dari tersangka.
“Ini berkaitan dengan janji ataupun penipuan dilakukan oleh salah seorang inisial VBW dari Lampung Tengah yang sudah memberikan statement iming-iming kepada kedua korban,” ujar Penasihat Hukum kedua korban.
Dalam kasus tersebut, Gunawan mengungkapkan, kedua korban telah menyerahkan uang senilai Rp400 juta kepada terlapor VBW dengan tujuan berinvestasi bagi hasil atas pelaksanaan program MBG di wilayah setempat.
“Korban ini dijanjikan terlapor akan diberikan suatu sharing profit Rp300 per porsi terhadap 4 ribu porsi makan pada usaha SPPG atau program MBG,” ungkapnya.
Korban Nova Anita Sari menjelaskan, dugaan tindak pidana penipuan ini diawali saat ia bersama rekannya Melia bersepakat menjalin kemitraan bisnis bersama terlapor VBW ihwal pembagian keuntungan pelaksanaan program MBG pada pertengahan September 2025 kemarin.
Menurutnya, keberadaan dapur umum program MBG tersebut mulanya direncanakan di wilayah Punggur, Lampung Tengah, dengan kesepakatan kedua korban menanamkan modal investasi senilai Rp400 juta.
“Kita berdua sepakat bergabung dengan dasar kepercayaan. Awal perjanjian pelunasan setelah dapur itu buka, tapi kami dirayu keluar dari perjanjian tertulis untuk memberikan pelunasan (total modal Rp400 juta) dengan iming-iming 7 Oktober positif buka dan sampai sekarang itu tidak buka,” terangnya.
Alih-alih menempati janjinya tersebut, korban lainnya Melia menambahkan, terlapor VBW memutus komunikasi dengan kedua korban dengan cara menghindar hingga memblokir nomor kontak masing-masing pelapor.
“Sampai sekarang belum buka (keberadaan dapur umum SPPG dijanjikan oleh terlapor VBW). Dia ini sebenarnya masih kerabat,” ungkap dia.
Terkait pelaporan ini, ia berharap aparat kepolisian segera menindaklanjuti dan mendalami kasus dugaan penipuan modus investasi pengadaan program MBG tersebut. “Kami harap modal seusai perjanjian tertulis bisa dikembalikan, karena terlapor sejauh ini hilang komunikasi,” lanjut Melia.
Program andalan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, rupanya disalah artikan dan dimanfaatkan untuk meraup keuntungan pribadi oleh beberapa orang yang notabene nya sendiri merupakan pejabat yang berada didalam kepemerintahan daerah itu sendiri. Menggunakan kewenangan jabatan untuk memuluskan aksinya diduga menjadi dasar pokok para pelaku dengan mudah mendapat kepercayaan dari pihak lain.
Selain hal tersebut, Ketua Umum Partai Gerinda Prabowo Subianto selaku Presiden Republik Indonesia diharuskan turun gunung, serta diharapkan dapat mengevaluasi seluruh anggota yg memiliki kedudukan didalam badan Kepemerintahan maupun kader partai diwilayah, Agar tidak semena-mena menjual nama partai untuk meraup keuntungan pribadi serta memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap partai.
Hal ini telah terjadi diberbagai tempat diwilayah Lampung, hingga banyak korban yang mengalami kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah akibat penipuan yang dilakukan oleh orang-orang yang notabenenya sendiri adalah orang-orang partai maupun pejabat daerah.
Minimnya pengawasan tentu menjadi celah bagi para kurdil tersebut melakukan aksinya, selain itu, tipisnya MORAL serta minimnya keperdulian dari pihak pemerintah menjadi landasan utamanya.
Program andalan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto Makan Bergizi Gratis (MBG) kini bukan lagi Progres Nasional yang diperuntukkan guna menekan penurunan stunting, melainkan menjadi ajang sayembara para petinggi di instansi Kepemerintahan demi meraup keuntungan pribadi secara besar-besaran. Saling adu kekuatan, Link, Chanel, jabatan, kekuasaan menjadi modal utama untuk menentukan siapa yang terkuat dialah yang akan bisa menjadi penguasa MBG. Mulai dari Bupati, DPR-RI, DPRD, DPD-RI yang dipilih oleh rakyat, justru merasa merekalah sang penguasa dari segala program Pemerintah Pusat.
Lampung apakah sudah merdeka dari pada mafia berseragam mewah nan rapih bak para aktor Korea?
Lantas Konsekuensi apa yang pantas jika ditemukan adanya oknum-oknum pejabat yang justru terlibat dalam hal tersebut?
Akankah Jabatan itu akan hilang? Atau justru jabatan itu yang akan digunakan mengintervensi pihak lain ?
Kredibilitas penegakan Hukum Polda Lampung, saat ini Tengah di uji, akankah pihak Polda Lampung mampu berdiri tegak ? Atau justru berdiri sebagai pelindung dari para pelaku?
#Andi Selagai















