https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Ketika Ilmu Diuji oleh Kepentingan Dunia

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

OPINI

Oleh Ustadz Rasyid
Wakil Ketua PMB Batam Kota

Ilmu adalah anugerah paling berharga yang Allah titipkan kepada manusia. Ia bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya yang menghidupkan akal, membersihkan hati, dan menuntun langkah menuju kebenaran. Namun dalam perjalanan sejarah, ilmu juga sering menjadi medan ujian yang paling berat, terutama ketika ia bersentuhan dengan kepentingan dunia, kekuasaan, dan ambisi pribadi.

Para ulama dan dai memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar menyampaikan ceramah. Mereka adalah penjaga nilai, penjaga arah, dan penjaga nurani umat. Setiap kata yang keluar dari lisan mereka, setiap sikap yang mereka tunjukkan, akan menjadi rujukan bagi masyarakat. Karena itu, kemurnian niat dan keberanian moral bukanlah pilihan, melainkan kewajiban.

Banyak kehancuran dalam perjalanan umat bukan dimulai dari kelemahan umat awam, tetapi dari melemahnya keteguhan orang-orang berilmu. Ketika kebenaran mulai ditawar dengan kepentingan, ketika keadilan dikalahkan oleh kenyamanan, saat itulah ilmu kehilangan daya cahayanya. Ia masih diucapkan, tetapi tidak lagi menggerakkan. Ia masih diajarkan, tetapi tidak lagi membebaskan.

Kekuasaan, di sisi lain, adalah realitas yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia. Ia dibutuhkan untuk mengatur, melindungi, dan menata kehidupan bersama. Namun kekuasaan juga selalu membawa potensi godaan. Di sinilah posisi ulama menjadi sangat penting: bukan sebagai pengikut kepentingan, melainkan sebagai penegur, penasehat, dan penuntun arah agar kekuasaan tetap berada di jalur kebenaran.

Relasi antara ilmu dan kekuasaan haruslah berdiri di atas kejujuran dan keberanian. Ulama boleh berada dekat untuk menasihati, tetapi tidak boleh larut hingga kehilangan daya kritis. Ulama boleh hadir memberi panduan, tetapi tidak boleh berubah menjadi pembenaran bagi kebijakan yang menyimpang dari nilai keadilan dan kemaslahatan umat.

Dalam dunia dakwah hari ini, ujian tidak selalu datang dalam bentuk ancaman atau tekanan. Justru sering hadir dalam wujud yang tampak indah: popularitas, fasilitas, jabatan, dan pengaruh. Semua itu, jika tidak disikapi dengan hati yang bersih, perlahan dapat mengikis keberanian menyuarakan kebenaran. Seorang da’i bisa terperangkap dalam zona aman yang menenangkan, tetapi mematikan ruh perjuangan.

Sebagai bagian dari gerakan dakwah di Batam Kota, kami memandang bahwa menjaga jarak dari kepentingan sempit adalah bagian dari menjaga kehormatan dakwah itu sendiri. Dakwah harus berdiri untuk umat, bukan untuk kelompok, apalagi untuk kepentingan pribadi. Dakwah harus berani berbeda ketika yang ramai itu keliru, dan berani sendiri ketika kebenaran ditinggalkan.

Masyarakat hari ini semakin jeli. Mereka tidak hanya mendengar ceramah, tetapi menilai akhlak. Mereka tidak hanya mengagungkan retorika, tetapi mencari keteladanan nyata. Kejujuran, kesederhanaan, dan keberpihakan kepada yang lemah adalah bahasa dakwah yang paling mudah dipahami oleh siapa pun.

Ilmu yang sejati tidak pernah bertujuan meninggikan diri, melainkan merendahkan hati. Ia tidak menjadikan pemiliknya haus pujian, tetapi takut akan amanah. Ia tidak mendorong seseorang mengejar kekuasaan, tetapi membimbingnya agar tidak dikuasai oleh kekuasaan.

Semoga kita semua, yang berjalan di jalan ilmu dan dakwah, senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga kemurnian niat, keteguhan prinsip, dan keberanian berpihak kepada kebenaran. Sebab pada akhirnya, kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa dekat ia dengan kekuasaan, tetapi seberapa jujur ia berdiri bersama kebenaran.

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *