https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Pernikahan Amanda–Robby: Doa Tokoh, Kerja Sunyi Warga, dan Kebahagiaan yang Mengalir

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kompassindonesianews.com
Palembang, Rabu 10 Desember 2025
Minggu, 7 Desember 2025

Di sebuah rumah sederhana di Jl. Pertahanan Ujung, Lr. Perjuangan 2, Palembang, pagi itu aroma kopi dan wangi bunga melati bercampur menjadi satu. Warga lalu-lalang mengatur kursi, sementara para ibu menyelesaikan hidangan terakhir. Di tengah kesederhanaan itu, Amanda Putri dan Muhammad Robby bersiap menuju akad suci yang akan menyatukan keduanya.

Tepat pukul 08.00 WIB, lantunan doa mengalun pelan ketika penghulu membuka prosesi akad nikah. Amanda, putri sulung dari Bapak Rosidi dan Ibu Emi Pitri, dan Robby, putra bungsu dari Bapak Rusdy dan Ibu Rusnaini, duduk berhadapan dalam suasana khidmat. Sejurus kemudian, ijab kabul terucap lantang—ringkas, namun menggetarkan. Hadirin menahan napas sesaat sebelum bertepuk tangan pelan. Resepsi berlangsung mulai pukul 10.00 WIB dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Kehadiran Tokoh Pemerintahan

Beberapa pejabat turut hadir memberikan doa dan ucapan selamat, di antaranya:
H. Herman Deru, Gubernur Sumatera Selatan (2025–2030)
Drs. Ratu Dewa, M.Si., Wali Kota Palembang (2025–2030)
Andie Dinialdie, S.E., M.M., Ketua DPRD Provinsi Sumsel (Golkar) 2024–2029
H. Mgs. Syaiful Padil, S.T., M.M., Anggota DPRD Kota Palembang (PKS) 2024–2029

Mereka hadir tidak hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai tokoh yang memberikan restu bagi rumah tangga yang akan dibangun kedua mempelai.

Doa dari Media, Pers, dan Masyarakat

Ucapan turut berbahagia datang dari lintas profesi dan komunitas, termasuk:
KompassIndonesia
Kabiro Kota Palembang & Kaperwil Sumsel
Wartawan Kota Palembang & Sumsel
Aliansi Wartawan Sumsel

Di halaman rumah, beberapa wartawan duduk rapi menyalami keluarga. “Semoga langgeng,” ujar salah seorang dari mereka sebelum kembali meliput.

Zuriyat Kesultanan & Para Ulama

Para tokoh keagamaan turut memenuhi undangan, membawa nuansa religius yang kental:

Zuriyat Masagus H. Abdul Hamid – Kiai Muara Ogan (Kertapati)
Syekh Muda Ahmad Pauzi
Ust. Mahdi
Ust. Iksan
Zuriyat KH. Nawawi Dahlan Mahmud (Simpang Sungki)
RM. Muhammad Soleh (Rizal) bin KH. RM. Zul Padillah

Dari jajaran pimpinan pesantren hadir:
KH. Syekh Hasyim Asy’ari, Pendiri PPS Rumah Suluk Mesuji, Lampung Utara
Syekh Muda Abdulrahman (Aminsyah), Pendiri Ponpes Rahmania, Talang Jambe
KH. Syekh Mgs. Ahmad Pauzan Yayan, Pendiri Ponpes Kiai Marogan, Palembang

Tak ketinggalan, Ketua & Pengurus Masjid Al-Pauzan, Ust. Ridwan, beserta para jama’ah turut hadir memberikan doa.

Tokoh Masyarakat & Kerja Sunyi Warga

Tokoh masyarakat seperti Bpk. Izzuddin SE., MBA., Bpk. Adi, Bpk. Hapidz, Bpk. Vesy, dan jajarannya tampak melebur bersama warga. Di sudut halaman, panitia sibuk bekerja tanpa banyak bicara—sebuah kerja sunyi yang sering luput dari sorotan.

Ketua panitia, Ustad Iwan Oni, Ustad Juliarto, dan Ust. Bahrum—lulusan Al-Azhar, Kairo—memastikan setiap detail berjalan rapi. Dari kursi tamu hingga jadwal acara, semuanya mengalir tanpa hambatan.

Ucapan Khusus dari Kedua Mempelai

Di balik keramaian, Amanda tak dapat menahan haru. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan rasa terima kasih:

“Terima kasih kepada seluruh tamu kehormatan, para ulama, tokoh masyarakat, pemuka agama, tetangga, dan sahabat.

Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Samsuddin yang telah membantu penataan perbatasan rumah dan banyak hal lainnya sehingga acara kami berjalan tertib.

Terima kasih juga kepada orang tua asuh saya, Bapak Evan Prawiran, yang telah merawat, membimbing, dan mendidik saya hingga sampai ke jenjang pelaminan.

Untuk Jiron, tetangga yang selalu ada seperti keluarga besar sendiri—terima kasih atas segala kebaikan dan dukungannya.

Semoga semua kebaikan ini dibalas oleh Allah SWT dengan pahala berlipat ganda.”

Akhir yang Menghangatkan

Sore itu, halaman rumah yang sejak pagi penuh aktivitas perlahan kembali tenang. Kursi dilipat, tenda diturunkan, dan warga pulang satu per satu. Namun bagi Amanda dan Robby, hari itu menjadi kenangan panjang—hari ketika cinta mereka disahkan oleh agama, dirayakan oleh keluarga, dan disaksikan oleh para tokoh.

Di Palembang, akad sederhana ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari ketulusan, kebersamaan, dan doa yang mengalir tanpa henti.

(Komarudin)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *