Kompassindonesianews.com – Jakarta/ Sabtu, 28 Maret 2026 . Dunia Memanas, Siapa yang Akan Selamat?
—
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan global meningkat tajam, konflik terjadi di berbagai wilayah, dan kekuatan besar dunia mulai saling berhadapan.
Konflik Perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada Kamis, 24 Februari 2022, hingga kini masih berlangsung, menjadi salah satu titik panas utama dunia, dengan Presiden Vladimir Putin memimpin keputusan militer Rusia dan Presiden Volodymyr Zelensky memimpin militer negara Ukraina.
Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah pada Jumat, 21 Maret 2026, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap Iran dengan alasan kekhawatiran atas program nuklir, yang berlanjut sampai sekarang. Presiden Donald Trump memimpin Amerika Serikat, sedangkan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu memimpin Israel dalam serangan tersebut.
Iran membantah tuduhan itu dan menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya, Ayatullah Ali Khamenei, wafat dalam gelombang serangan awal. Jabatan kepemimpinan Iran dilanjutkan oleh putranya, Mujtaba Khamenei, yang kini memimpin respon dan menegaskan kedaulatan nasional.
Dari dua konflik besar ini, terlihat satu pola yang sama:
dunia bergerak menuju titik yang semakin berbahaya.
Apakah ini awal dari Perang Dunia Ketiga?
Sinyalnya Mulai Terlihat
Pengamat komunikasi politik Moh. Saripudin menilai bahwa pola konflik global saat ini patut diwaspadai.
Ketika negara merasa paling kuat, sementara keputusan diambil secara cepat dan terpusat, risiko konflik besar semakin terbuka.
“Jika pola ini terus terjadi, dunia bisa bergerak ke arah konflik besar. Dan yang paling terdampak tetap masyarakat,” ujarnya.
Konflik yang Saling Terhubung
Pengamat geopolitik Ian Bremmer menyebut dunia berada dalam fase ketidakpastian tinggi.
Konflik tidak lagi berdiri sendiri. Satu konflik bisa memicu konflik lain, dan efeknya dapat menjalar ke seluruh dunia.
Dampaknya Sudah Terasa
Harga energi naik, pangan terganggu, dan ekonomi global tertekan.
Sejumlah ekonom internasional seperti Kristalina Georgieva dan Mathias Cormann menilai konflik geopolitik global berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan inflasi.
Sementara itu, ekonom nasional seperti Chatib Basri dan Bhima Yudhistira menilai dampak konflik global akan langsung dirasakan masyarakat, terutama melalui kenaikan harga energi, pangan, dan tekanan terhadap daya beli.
Indonesia di Mana?
Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tetap berada di jalur diplomasi.
Melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, Indonesia berupaya menjaga keseimbangan dan mendorong penyelesaian damai.
Namun pertanyaannya:
cukupkah diplomasi di tengah dunia yang semakin panas?
Perang Dunia Ketiga mungkin belum terjadi.
Tapi tanda-tandanya mulai terlihat.
Dunia sedang bergerak cepat.
Dan jika tidak dikendalikan —
bukan hanya negara yang bertempur,
tetapi seluruh manusia akan merasakan dampaknya.
(Komarudin)














