https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Jangan Mengingat Kebaikanmu, Ingatlah Tangan yang Pernah Menolongmu

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Naskah Opini

Jakarta, 19 Mei 2026

Di zaman sekarang, kebaikan sering berubah menjadi tontonan. Sedikit membantu, langsung ingin dikenang. Sedikit memberi, lalu berharap dihormati. Bahkan tak sedikit orang yang diam-diam mencatat semua jasanya kepada orang lain, seolah pertolongan adalah investasi balas budi.

Padahal, kebaikan sejati justru lahir dari hati yang tidak sibuk menghitung.

Ada satu pelajaran sederhana namun sangat dalam: *jangan terlalu mengingat saat kita menolong orang, tapi ingatlah saat kita ditolong orang.* Kalimat ini terdengar singkat, tetapi memiliki makna yang mampu mengubah cara seseorang memandang hidup.

Ketika kita menolong orang lain, sebenarnya kita hanya sedang menjalankan nilai kemanusiaan. Tidak ada yang perlu dibanggakan berlebihan. Hari ini kita bisa membantu, mungkin karena kita sedang memiliki kemampuan, tenaga, waktu, atau rezeki lebih. Namun hidup terus berputar. Tidak ada jaminan bahwa besok kita tetap berada di posisi yang kuat.

Karena itu, menolong tidak seharusnya melahirkan kesombongan.

Sebaliknya, saat kita ditolong orang lain, di situlah kita belajar tentang arti rendah hati. Kita sadar bahwa hidup ini tidak bisa dijalani sendirian. Ada tangan-tangan yang pernah menopang kita ketika jatuh, ada orang-orang yang diam-diam membantu saat kita kesulitan, ada mereka yang hadir tanpa diminta ketika dunia terasa berat.

Sayangnya, banyak orang mudah lupa pada pertolongan yang pernah ia terima, tetapi sangat hafal pada bantuan yang pernah ia berikan.

Kita sering berkata, “Saya sudah banyak membantu dia.” Namun jarang berkata, “Saya bisa sampai di titik ini karena pernah dibantu banyak orang.” Padahal manusia yang bijak bukanlah manusia yang sibuk mengingat jasanya sendiri, melainkan yang pandai mensyukuri kebaikan orang lain.

Menghapus ingatan tentang kebaikan diri sendiri bukan berarti merendahkan diri, melainkan melatih ketulusan. Sebab pertolongan yang paling indah adalah pertolongan yang tidak terus-menerus diungkit.

Sementara mengingat kebaikan orang lain adalah cara menjaga hati agar tetap tahu diri. Karena rasa terima kasih adalah bentuk kemewahan moral yang mulai langka di zaman penuh gengsi ini.

Kita harus belajar bahwa hidup bukan tentang siapa paling berjasa, tetapi siapa yang paling tulus. Dunia sudah terlalu penuh dengan orang yang ingin dipuji. Maka jadilah pribadi yang diam-diam berbuat baik tanpa merasa paling hebat.

Sebab pada akhirnya, orang yang benar-benar mulia bukanlah mereka yang selalu menceritakan siapa yang pernah ia tolong, tetapi mereka yang tidak pernah melupakan siapa yang pernah menolongnya.

Dan mungkin, itulah bentuk kemanusiaan paling indah yang masih dimiliki manusia.

Mursalih

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *