opini
Oleh : Dr. Nursalim, M. Pd
Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau
Dalam kajian semiotika, gambar ini merupakan sebuah teks multimodal yang memadukan tanda verbal (bahasa tulis) dan tanda nonverbal (visual) untuk menyampaikan pesan moral kepada pembacanya. Semiotika memandang bahwa setiap unsur dalam gambar, baik tulisan, warna, objek, maupun ekspresi, merupakan tanda yang mengandung makna tertentu.
Menurut teori semiotika Charles Sanders Peirce, tanda terdiri atas representamen (bentuk tanda), objek (hal yang dirujuk), dan interpretan (makna yang dipahami pembaca). Dalam gambar ini, kalimat “Jangan terlalu merasa diri itu selalu betul, sampaikan orang yang betul pun kau anggap salah” berfungsi sebagai representamen yang merujuk pada fenomena sosial berupa sikap arogan dan merasa paling benar. Interpretan yang muncul dalam pikiran pembaca adalah pentingnya kerendahan hati dalam menerima pendapat orang lain.
Secara denotatif, gambar tersebut hanya menampilkan seekor kucing berwarna jingga yang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada sebuah tiang lampu. Namun secara konotatif, kucing tersebut melambangkan sosok manusia yang memiliki rasa percaya diri berlebihan, keras kepala, dan enggan menerima kritik. Posisi tangan yang terlipat di dada menunjukkan sikap defensif dan penolakan terhadap pandangan yang berbeda.
Ekspresi wajah kucing menjadi tanda visual yang sangat penting. Tatapan mata yang menyipit dan bibir yang mengerucut memberikan kesan sinis, meremehkan, dan merasa lebih unggul daripada pihak lain. Dalam semiotika visual, ekspresi seperti ini sering digunakan untuk merepresentasikan karakter yang sombong atau merasa dirinya paling benar. Dengan demikian, kucing dalam gambar bukan sekadar hewan, melainkan simbol perilaku manusia dalam kehidupan sosial.
Tiang lampu yang berada di samping kucing juga memiliki makna simbolik. Dalam banyak kebudayaan, cahaya atau lampu sering diasosiasikan dengan pengetahuan, pencerahan, dan kebenaran. Keberadaan lampu di samping kucing dapat ditafsirkan sebagai simbol bahwa kebenaran sebenarnya berada di dekatnya, tetapi kesombongan membuatnya tidak mampu melihat atau menerima cahaya kebenaran tersebut.
Dari perspektif semiotika warna, penggunaan warna oranye pada kata merasa, betul, dan salah memiliki fungsi penekanan makna. Warna oranye identik dengan perhatian, energi, dan peringatan. Perancang gambar sengaja menonjolkan kata-kata tersebut untuk mengarahkan fokus pembaca pada inti pesan, yaitu hubungan antara perasaan, keyakinan akan kebenaran diri, dan kecenderungan menyalahkan orang lain.
Apabila dianalisis menggunakan teori mitos dari Roland Barthes, gambar ini membangun mitos sosial bahwa salah satu kelemahan manusia adalah kecenderungan menganggap dirinya sebagai pemilik kebenaran tunggal. Mitos tersebut sering ditemukan dalam kehidupan politik, organisasi, keluarga, maupun media sosial. Ketika seseorang merasa paling benar, ia tidak lagi menilai sebuah pendapat berdasarkan argumentasi, melainkan berdasarkan siapa yang menyampaikannya.
Dalam perspektif linguistik dan semiotika sosial, teks pada gambar menunjukkan kritik terhadap perilaku komunikasi yang tidak dialogis. Pesan yang ingin dibangun adalah bahwa bahasa seharusnya menjadi sarana mencari kebenaran bersama, bukan alat mempertahankan ego. Sikap merasa paling benar menyebabkan seseorang menolak makna yang sebenarnya terkandung dalam pesan orang lain. Akibatnya, komunikasi gagal mencapai tujuan utamanya, yaitu terciptanya pemahaman bersama.
Bagi masyarakat Melayu, pesan ini memiliki relevansi yang kuat dengan nilai budaya yang menjunjung musyawarah, adab, dan kesantunan berbahasa. Dalam tradisi Melayu, seseorang tidak dianjurkan meninggikan diri atau merendahkan orang lain. Kebenaran dicari melalui perbincangan dan mufakat, bukan melalui pemaksaan kehendak. Oleh karena itu, gambar ini dapat dipahami sebagai kritik semiotik terhadap perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya Melayu.
Secara keseluruhan, makna semiotik gambar ini adalah peringatan bahwa kesombongan intelektual dapat menutup kemampuan seseorang untuk menerima kebenaran. Kucing yang angkuh, lampu sebagai simbol pencerahan, warna yang menonjol, dan kalimat yang bersifat persuasif bekerja secara bersama-sama membentuk sebuah pesan moral yang kuat. Pesan tersebut mengajak pembaca untuk bersikap rendah hati, terbuka terhadap kritik, serta menyadari bahwa kebenaran tidak selalu berada pada diri sendiri, melainkan dapat datang dari siapa saja.














