https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Antisipasi Kekeringan BPBD Sleman dan PDAM Tirta Sebada, Lakukan Pemetaan di 17 Kapanewon

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

SlemanKompassIndonesianews.com, Pemerintah Kabupaten Sleman meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman bersama PDAM Tirta Sembada melakukan pemetaan tingkat kerawanan air bersih di 17 kapanewon.

Langkah tersebut dilakukan menyusul prediksi BMKG mengenai musim kemarau yang berpotensi berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino.

Pemkab Sleman juga menyiapkan Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat Kekeringan sebagai dasar penguatan koordinasi dan penanganan apabila kondisi kekurangan air semakin meluas.

Kepala BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, A.P., M.Si., mengatakan SK tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dasar koordinasi lintas sektor, tetapi juga diperlukan untuk mendukung akses terhadap anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) apabila kondisi darurat benar-benar terjadi.

“SK ini selain untuk koordinasi, juga menjadi dasar apabila nanti kondisi benar-benar darurat sehingga kita bisa mengakses anggaran Belanja Tidak Terduga,” ujar Bambang saat jump pers, Selasa (11/08/2026).

Menurutnya, Kabupaten Sleman memiliki 11 potensi bencana, salah satunya kekeringan. Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekurangan air menjadi salah satu prioritas selama musim kemarau.

Empat Kapanewon Dipetakan Paling Rawan

Berdasarkan hasil pemetaan BPBD Sleman, sejumlah wilayah berpotensi mengalami dampak kekeringan lebih besar. Wilayah tersebut meliputi Kapanewon Tempel, Turi, Minggir, dan Moyudan.

Bambang mengatakan kerawanan terutama perlu mendapat perhatian di wilayah barat Sleman. Kondisi tersebut berpotensi semakin berat apabila pasokan air dari saluran irigasi berhenti atau berkurang.

“Wilayah barat Sleman akan semakin rentan apabila pasokan air dari Selokan Mataram maupun Van der Wijck dihentikan,” katanya.

Pemetaan tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi BPBD bersama PDAM Tirta Sembada untuk mengetahui kondisi sumber air dan kebutuhan masyarakat di 17 kapanewon. Data tersebut nantinya menjadi acuan dalam menentukan wilayah prioritas apabila terjadi kekurangan air bersih.

Debit Mata Air Krasak Turun Sepertiga

Dampak musim kemarau mulai dirasakan dari menurunnya debit sejumlah sumber air. Salah satunya Mata Air Krasak yang menjadi salah satu sumber pasokan air bagi masyarakat.

Bambang menyebut debit Mata Air Krasak pada Agustus 2026 mengalami penurunan sekitar sepertiga dibandingkan kondisi sebelumnya.

“Mata air di Krasak pada bulan Agustus ini debit airnya berkurang sepertiga. Ini mengakibatkan intensitas air yang disalurkan kepada masyarakat menurun,” jelasnya.

Penurunan debit tersebut menjadi salah satu indikator yang terus dipantau pemerintah daerah. Jika kondisi semakin memburuk, kebutuhan distribusi air bersih kepada masyarakat diperkirakan ikut meningkat.

BPBD Sleman telah melakukan distribusi air bersih atau dropping air ke sejumlah wilayah yang membutuhkan.

“Bulan ini kami sudah melakukan delapan kali dropping air. Ini situasi dan kondisi kekurangan air bersih yang harus kita antisipasi bersama,” kata Bambang.

Siaga Kebakaran Hutan dan Permukiman

Ancaman musim kemarau tidak hanya berupa kekeringan. Kondisi lingkungan yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman.

BPBD Sleman telah melaksanakan apel siaga dan memperkuat koordinasi dengan berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, relawan, pemerintah daerah, serta masyarakat.

“Prediksi dari BMKG, karena adanya dampak El Nino, kemarau tahun ini agak panjang. Kami bersama-sama melaksanakan apel siaga menghadapi bencana kebakaran hutan dan perumahan warga,” ujar Bambang.

la mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan dan tidak membuang puntung rokok di kawasan yang mudah terbakar.

Waspadai Monyet Ekor Panjang dan ISPA

Potensi gangguan selama musim kemarau juga mencakup meningkatnya kemunculan monyet ekor panjang di kawasan permukiman. Berkurangnya sumber makanan dan air di habitatnya dapat mendorong satwa tersebut turun ke lingkungan warga.

Bambang memastikan BPBD Sleman siap memberikan pelayanan apabila masyarakat menghadapi gangguan akibat kemunculan monyet ekor panjang.

Selain itu, masyarakat diminta memperhatikan dampak kesehatan selama musim kemarau, khususnya gangguan pernapasan akibat debu dan kondisi udara.

“Perhatikan juga dampak adanya penyakit ISPA,” ujarnya.

BPBD Sleman mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air, tidak membakar sampah sembarangan, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Dengan pemetaan kerawanan di 17 kapanewon, koordinasi lintas sektor, penyiapan SK Siaga Darurat Kekeringan, hingga kesiapan dukungan anggaran BTT, Pemkab Sleman berupaya mengantisipasi dampak kemarau panjang sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *