https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

AI Makin Canggih, Akal Manusia Tetaplah Kompasnya: KEMENDIKBUD Ingatkan AI Tak Boleh Menggeser Guru dan Keadaban

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Jakartakompassindonesianews.com/ — Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) perlahan masuk ke ruang-ruang kehidupan manusia—termasuk sekolah. Namun Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan satu hal penting: secanggih apa pun teknologi, manusia tetap memegang kendali atas arah perjalanannya.

Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan arahan kepada peserta Program Magang Luar Negeri Guru SMK 2026 di Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026).

Menurut Mu’ti, AI memang akan mengubah banyak aspek kehidupan. Bahkan, ketergantungan manusia terhadap teknologi diperkirakan semakin besar. Tetapi teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah alat itu membawa kemajuan atau justru persoalan baru tetaplah manusia.

“Teknologi sangat penting, bahkan sangat dibutuhkan untuk dunia masa depan. Tetapi di atas semua itu yang paling menentukan tetaplah manusia,” ujar Mu’ti.

Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap Kemendikdasmen yang sejak awal mendorong pemanfaatan AI sebagai pendukung pembelajaran, bukan pengganti guru. Pemerintah menilai teknologi dapat membantu proses belajar, tetapi pendidikan memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi.

A. AI Bisa Menjawab, tetapi Tidak Selalu Bisa Mengalami

Mu’ti kemudian mengutip buku How AI Will Change Our World yang menurutnya kerap digunakan untuk menjelaskan bagaimana perkembangan AI akan memengaruhi kehidupan manusia.

Ia memberikan gambaran sederhana namun cukup dalam. AI dapat mengolah informasi, menjelaskan berbagai persoalan, bahkan membantu manusia memahami suatu penyakit. Tetapi kemampuan menjelaskan tidak otomatis berarti memiliki pengalaman, tanggung jawab, empati, dan daya juang manusia untuk menemukan sesuatu yang baru.

Dengan kata lain, AI dapat membantu manusia mencari jawaban, tetapi manusia tetap memiliki tugas untuk menentukan pertanyaan apa yang layak dicari dan untuk tujuan apa pengetahuan itu digunakan.

Pandangan ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Pada Januari 2026, Mu’ti juga pernah menegaskan bahwa AI memiliki kemampuan mengolah data dan menyajikan informasi dengan cepat, tetapi tidak memiliki pengalaman, tanggung jawab moral, serta dimensi kemanusiaan yang melekat pada peran seorang guru.

B. Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Penjaga Arah

Di sinilah posisi guru menjadi semakin penting.

Kemendikdasmen telah mendorong peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran mendalam, koding, dan AI. Pada Juli 2026, kementerian bahkan meluncurkan program pelatihan mandiri bagi guru dan tenaga kependidikan untuk memperkuat kemampuan tersebut.

Mu’ti menempatkan guru bukan sekadar sebagai orang yang berdiri di depan kelas lalu menyampaikan materi. Guru adalah manusia yang membimbing manusia lain untuk tumbuh.

Pada kesempatan berbeda, ia menyebut guru sebagai agent of learning sekaligus agent of civilization—agen pembelajaran sekaligus agen peradaban. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang dapat dihafal anak, tetapi juga tentang bagaimana seorang anak belajar menjadi manusia yang berkarakter.

Maka, ketika AI semakin cerdas, guru justru dituntut semakin manusiawi.

C. AI Masuk Sekolah, Keadaban Jangan Sampai Keluar

Pemerintah juga menaruh perhatian pada persoalan etika dalam penggunaan AI.

Kemendikdasmen menekankan pentingnya kompetensi digital yang berjalan bersama keadaban digital (digital civility). Sebab tanpa etika, teknologi yang semestinya menjadi alat bantu justru berpotensi melahirkan persoalan sosial baru.

Dalam forum ASEAN Education Ministers Meeting ke-14 di Singapura pada Juli 2026, Indonesia juga mendorong agar pendidikan AI tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi. Anak perlu diajarkan bagaimana menggunakan AI dengan benar, memahami etika penggunaannya, serta mampu berpikir melampaui teknologi itu sendiri.

AI dan koding sendiri telah diarahkan menjadi mata pelajaran pilihan mulai kelas V SD dan jenjang pendidikan berikutnya. Pemerintah membuka kemungkinan menjadikannya mata pelajaran wajib ketika kesiapan sumber daya manusia serta sarana-prasarana telah terpenuhi.

Pesannya jelas: anak Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus tumbuh sebagai manusia yang mampu mengendalikan teknologi dengan ilmu, akhlak, dan tanggung jawab.

D. Pada Akhirnya, Teknologi Tetap Membutuhkan Nurani

Perdebatan tentang apakah AI akan menggantikan manusia mungkin akan terus berlangsung. Mesin akan semakin cepat, algoritma semakin pintar, dan kemampuan teknologi akan semakin luas.

Tetapi ada wilayah yang tidak cukup diukur dengan kecepatan prosesor: kasih sayang seorang guru, keteladanan orang tua, kebijaksanaan seorang pendidik, tanggung jawab moral, dan kemampuan manusia untuk memilih antara yang benar dan yang sekadar mungkin dilakukan.

Karena itu, pesan Mu’ti terasa relevan di tengah demam AI yang semakin kuat.

Teknologi boleh menjadi tangan yang membantu manusia bekerja. AI boleh menjadi otak tambahan untuk mengolah informasi. Tetapi manusia tetap harus menjadi kompas yang menentukan ke mana semua kecanggihan itu diarahkan.

Sebab pendidikan pada akhirnya bukan perlombaan untuk melahirkan manusia yang paling cepat berpikir seperti mesin.

Pendidikan adalah ikhtiar untuk melahirkan manusia yang mampu menggunakan mesin tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Penulis:
Burhanudin Fajri
Zill Samt

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *