https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Tambang Pasir Putih Mitra PERUSDA Banjarnegara Jawa Tengah Menjadi Sorotan Publik

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Banjarnegara –  Kompassindonesianews.Com Dalam rangka peningkatan Penghasilan Asli Daerah ( PAD ), dengan memanfaatkan sumber daya alam, Pemerintah daerah Banjarnegara melalui PERUSDA melakukan eksplorasi pasir putih yang mengandung ” Celica ” secara besar besaran dengan menggandeng mitra penambang.

Namun, penambang sebagai mitra perusda dalam mengoperasikan tambang pasir mendapat sorotan publik akibat dari dampak lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat sekitar banyak yang merasa dirugikan karena padatnya lalulintas armada pengangkut hasil tambang.

Saat team media mendatangi lokasi tambang di Desa Kalitengah Kecamatan Purwanegara pada Jumat, 4 September 2026 mendapati nampak dengan jelas eksplorasi sumber daya alam secara besar – besaran dengan menggunakan alat berat, dan hasil tambangnya diangkut keluar dengan puluhan armada truck.

Kemudian awak media bergegas mendatangi kantor Perusda untuk melakukan klarifikasi dengan pejabat Perusda terkait operasional tambang, pada Selasa, 8 September 2026 dan ditemui oleh PLT Direktur Perusda, namun karena PLT Direktur Perusda belum siap menjawab pertanyaan awak media lalu dijanjikan bertemu kembali pada Rabu, 9 September 2026 sekira pukul 13.30 WIB.

Kepada awak media, Chikmah Siti Rahayu S.E.M., Akun selaku PLT Direktur Perusda Banjarnegara menjelaskan bahwa ijin pertambangan secara keseluruhan dari mitra penambang menginduk kepada Perusda, dengan MOU antara Perusda dengan mitra penambang.

Indikasi penggunaan BBM bersubsidi mencuat
Disela – sela wawancaranya dengan awak media, PLT Direktur mengaku bahwa pengawasan secara langsung dilapangan tidak pernah dilakukan, namun hanya beberapa kali melakukan tinjauan saja. Hal ini memicu pertanyaan dari awak media terkait dengan penggunaan BBM untuk eskafator yang digunakan dilokasi tambang, yang selanjutnya dijawab oleh PLT Direktur bahwa dirinya tidak mengetahui.

Dalam wawancaranya, Chilmah mengatakan bahwa ” Saya adalah PLT Direktur yang ditugaskan kira – kira baru 1 ( satu ) bulan yang lalu, sehingga saya belum faham sekali dengan kondisi dilapangan. Namun kami selalu menghimbau kepada operator, khususnya pengemudi Truck untuk menutup muatan dengan menggunakan terpal, namun kita dapati masih banyak pengemudi yang membandel ” ungkapnya.

Lebih lanjut Chikmah menjelaskan, bahwa ” Tentang pengawasan penggunaan BBM yang digunakan untuk mengoperasikan alat berat memang kami belum pernah melakukan pemeriksaan ” ulasnya.

Setiawan

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *