https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Untuk Memperkuat Konektivitas Antar Wilayah, Dishub Sleman Menyiapkan Angkutan Umum Trans Sembada

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

SlemanKompassIndonesianews.com, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mulai menyiapkan sistem angkutan umum daerah TransSembada untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mengantisipasi potensi peningkatan kepadatan lalu lintas di masa mendatang.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sleman, Heri Kuntadi, mengatakan pengembangan transportasi umum menjadi bagian dari upaya menghadirkan konektivitas yang lebih baik dan meningkatkan keselamatan masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat ditemui pada momentum Hari Perhubungan Nasional, Kamis (17/9/2026).

Menurut Heri, pembangunan infrastruktur dan semakin mudahnya akses menuju Yogyakarta, termasuk melalui jalan tol, berpotensi meningkatkan arus kendaraan serta mobilitas masyarakat dari berbagai daerah.

Kondisi itu perlu diantisipasi agar peningkatan mobilitas tidak kemudian menimbulkan persoalan baru berupa kepadatan hingga kemacetan lalu lintas.

“Inti transportasi itu ujung-ujungnya keselamatan masyarakat. Itu dampak yang mesti dirasakan oleh masyarakat,” kata Heri.

Ia menjelaskan, salah satu langkah yang disiapkan adalah menyediakan angkutan umum yang dapat menghubungkan sejumlah pusat wilayah di Sleman dengan jaringan transportasi yang telah dikembangkan Pemerintah Daerah DIY.

Konsep tersebut kemudian dikembangkan melalui rencana pembentukan TransSembada.

“Harapannya bisa membangun konektivitas, termasuk mengantisipasi kalau sudah terjadi kepadatan lalu lintas. Angkutan umum menjadi pilihan masyarakat untuk mengurangi kemacetan,” ujarnya.

Menurut Heri, tahun 2026 menjadi tahap awal penyiapan regulasi. Dishub Sleman telah menyiapkan rancangan Peraturan Bupati sebagai salah satu landasan penyelenggaraan TransSembada.

Tahap berikutnya mencakup penyusunan perhitungan kebutuhan biaya operasional, kajian trayek, sarana dan prasarana, sumber daya manusia, sistem pengelolaan hingga penyusunan blueprint jaringan transportasi.

“Bagaimana trayeknya, bagaimana sarprasnya, bagaimana SDM pengelolaannya, bagaimana anggarannya dan sebagainya, itu yang perlu disiapkan,” jelasnya.

Heri mengatakan proses tersebut membutuhkan waktu karena penyelenggaraan angkutan umum tidak hanya berkaitan dengan penyediaan kendaraan. Pemerintah juga harus memastikan aspek operasional, pembiayaan dan jaringan pelayanan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Salah satu target yang tengah dipersiapkan adalah pengelolaan layanan TransJogja jalur 14 yang menghubungkan Pakem dengan Bandara Adisutjipto dan sebaliknya.

Heri mengatakan terdapat permintaan agar jalur tersebut nantinya dikelola oleh Pemkab Sleman karena seluruh trayek berada di wilayah Kabupaten Sleman.

“Target pertama kita upayakan TransSembada itu mengganti TransJogja yang di jalur itu,” katanya.

Target tersebut diproyeksikan mulai ditindaklanjuti pada 2028.

Namun, TransSembada tidak dirancang hanya untuk menggantikan satu jalur. Dishub Sleman juga akan mengkaji pengembangan jaringan transportasi ke berbagai wilayah, termasuk kawasan wisata.

Salah satunya konektivitas menuju Kaliurang. Saat ini masyarakat yang menggunakan TransJogja dari arah Kota Yogyakarta dapat mencapai Terminal Pakem. Persoalannya, dari Terminal Pakem menuju Kaliurang masih membutuhkan moda lanjutan.

“Nanti termasuk kajian trayek mengarah ke bagaimana pelayanan wisata. Ada trayek dari Kaliurang sampai ke Terminal Pakem,” ujar Heri.

Pengembangan jaringan juga akan dikaji dari wilayah barat Sleman. Dengan layanan TransJogja yang telah menjangkau kawasan Godean, Dishub melihat adanya kebutuhan konektivitas lanjutan bagi masyarakat dari wilayah seperti Minggir menuju pusat Kota Yogyakarta.

Meski konsep TransSembada mulai dipersiapkan, Heri mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam merealisasikannya.

Anggaran menjadi salah satu kendala utama.

Pemerintah perlu menghitung kebutuhan biaya operasional, penyediaan armada, sarana-prasarana, sumber daya manusia, serta biaya pengelolaan jaringan trayek.

Karena itu, penyiapan TransSembada dilakukan secara bertahap dengan terlebih dahulu membangun dasar regulasi dan perencanaan yang matang.

Heri berharap kehadiran TransSembada nantinya tidak sekadar menjadi moda transportasi baru, tetapi mampu membangun konektivitas antarkawasan di Sleman, memberikan alternatif bagi masyarakat pengguna kendaraan pribadi, serta membantu mengurangi tekanan lalu lintas seiring meningkatnya mobilitas menuju Yogyakarta.

(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *