https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Dapat Bantuan 35 Easy Grow Compost Bag dari UMG, Warga Dusun Sendari Dirikan Bank Sampah.

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten Sleman – Kompassindonesisnews.com Kalau kita berbicara soal sampah saat ini, sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat khususnya di Kabupaten Sleman.” Kita tau semenjak TPA Piyungan sudah ditutup oleh pemerintah DIY, karena sudah tidak bisa lagi menampung ratusan ton sampah setiap harinya sehingga TPA Piyungan ditutup sementara oleh pemerintah DIY.

Hal ini lah membuat kami, terpanggil bagaimana caranya agar sampah itu bisa diolah dengan biaya yang murah dan ramah lingkungan.

” Hal tersebut di sampaikan, Hj.Priwanti selaku pembina Bank sampah yang diberi nama MARCHIPUL saat acara Launching berdirinya Bank sampah RT 03/19 Dusun Sendari, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon/ Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ia mengatakan, awal mula terbentuknya Bank sampah ini bermula setelah kami mendengar informasi bahwa TPA di Piyungan itu di tutup.” Akibat TPA Piyungan itu ditutup, sampah – sampah selama ini yang diangkut oleh petugas sampah tidak lagi diangkut sehingga terjadilah penumpukan sampah dimana – mana.” Akibat penumpukan sampah itu timbullah bau tidak sedap banyak lalat dan lain – lainnya, bukan itu saja disegi pemandanganpun kurang bagus terutama sampah plastik kalau terkena angin bisa kabur dibawa angin,” tuturnya.

Nah, timbulah untuk itu maka dari punya inisiatif untuk membuat organisasi Bank sampah yaitu bergerak di bidang sedekah sampah dulu,” ujar istri Dukuh Dusun Sendari ini.

Di ceritakan kebetulan di Sendari ini ada dosen dari UGM namanya, Novita Yustinadiar, S.S.i.,M.Si, dia itu sebagai dosen Fakultas Biologi.” Nah kita mendapat bimbingan mendapat arahan dan mendapat bantuan Compost Bag dari UGM sebanya 35 unit, harapan kami Compost Bag itu untuk menciptakan pupuk yang organik yang kering.

” Lanjutnya, Compost Bag yang dari UGM itu kami bagikan kepada 35 KK yang ada di RT 03/19 ini.” Lalu setiap ada perkumpulan atau arisan para ibuk – ibuk itu kami bina bagaimana caranya memilah sampah yang benar, bagaimana caranya memilah sampah yang basah dan bagaiman caranya memilah sampah yang kering.

Kalau sampah itu bisa dijual lansung ya, kita jual kalau tidak kita olah dulu.” Cntoh seperti plastik kantong kresek kami beritau sama ibuk – ibuk kresek itu jangan dibuang dikumpulkan lalu disedekahkan ke Bank sampah lalu kita jual kan bisa menghasilkan uang.

” Di ceritakan, kalau warga yang punya hewan ternak kalau ada sisa sayuran, sisa nasi itu diberikan untuk hewan ternaknya, tapi bila mana yang tidak punya hewan ternak kita ambil dijadikan pupuk organik terangnya.

Ia juga menerangkan saat ini, kami kan baru merintis belum punya modal banyak untuk membeli barang bekas dari warga kakau mereka mau sedekah kami terima tapi kalau mereka mau menjual kami beli semampunya.” Tapi kami melihat semua warga mendukung apa yang kami rintis karena inikan sedekah, kalau kita sedekah yang ikhlas hasilnya juga bagus suatu pahala buat diri sendiri dan orang lain.

” Lebih lanjut, dikatakan bahwa saat ini kami baru merintis di RT 03/19 dulu kalau ini sudah berjalan baru kita ajak warga RT 01, RT 02, RT 04 dan baru kita kembangkan ke tingkat Kalurahan.” Kami mohon doanya semoga hal ini berhasil, kalau sudah ini berhasil kan bisa mengurangi sampah dan bisa juga menambah penghasilan khususnya para ibuk – ibuk tutupnya.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *