BENGKALIS – Kompassindonesianews.com – Gema takbir yang seharusnya menggema penuh kemenangan di malam Idulfitri 1447 H justru tertutup oleh tangisan para ASN dan aparatur desa di Kabupaten Bengkalis. Jumat malam, 20 Maret 2026, menjadi malam paling getir bagi mereka bukan karena lelah berpuasa, tetapi karena hak yang tak kunjung dibayar.
Tunjangan Hari Raya (THR), Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), hingga gaji aparatur desa yang telah tertunggak selama lima bulan, masih juga tak jelas nasibnya. Di saat daerah lain menuntaskan kewajiban, Bengkalis justru menyisakan luka.
Suara pilu itu datang langsung dari seorang ASN, yang hanya mampu mengungkapkan kesedihannya dengan kata-kata sederhana namun menghantam.
“Sedih awak… awak tutup pintu agaknyo… sedih awak nengok anak-anak,” ucapnya lirih.
Kalimat singkat itu menjadi gambaran nyata kondisi di lapangan orang tua yang tak mampu menatap anaknya di malam lebaran karena tak punya apa-apa untuk dibawa ke hari raya.
Bukan satu atau dua orang, tapi ribuan ASN dan perangkat desa kini berada dalam tekanan yang sama. Khusus aparatur desa, kondisi lebih parah: lima bulan tanpa gaji sejak November 2025. Mereka dipaksa bertahan, berutang, bahkan mengorbankan kebutuhan keluarga demi menyambung hidup.
Kontras mencolok terlihat jika dibandingkan dengan Kabupaten Siak. Di saat Bengkalis diliputi ketidakpastian, Pemkab Siak justru telah menuntaskan pembayaran THR ASN sebesar 100 persen dan TPP sebelum libur lebaran.
Tak hanya itu, gaji ASN dan tenaga honorer bulan Maret juga telah dibayarkan. Semua dilakukan melalui APBD dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), tanpa menambah utang.
Perbandingan ini bukan sekadar angka, tetapi tamparan keras bagi Bengkalis tentang bagaimana dua daerah menghadapi momen yang sama dengan hasil yang sangat berbeda.
Krisis Kepemimpinan di Ujung Lebaran
Di tengah situasi yang semakin memanas, publik mempertanyakan keberanian dan ketegasan pemerintah daerah Bengkalis. Minimnya penjelasan, sulitnya akses konfirmasi, hingga belum adanya kepastian pembayaran memperkuat kesan lemahnya respons terhadap krisis ini.
Lebaran yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan berubah menjadi simbol kegagalan dalam memenuhi hak dasar para abdi negara.
Malam takbiran di Bengkalis tahun ini bukan tentang kemenangan, melainkan tentang air mata, kekecewaan, dan harapan yang nyaris padam.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, yang runtuh bukan hanya ekonomi keluarga ASN dan aparatur desa tetapi juga kepercayaan publik terhadap kepemimpinan daerah.
Penulis: Harry














