https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg
Berita  

Viral Keluhan Warga Picu Penanganan Cepat, Sampah 4 RW Di Jembatan Besi Akhirnya  Teratasi

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kompassindonesianews.com
Jakarta Barat, Senin (23/03/2026) – Permasalahan tumpukan sampah yang menggunung di Jl. Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, yang berasal dari *RW 07, RW 08, RW 09, dan RW 010,* menjadi sorotan publik setelah keluhan warga viral di media sosial.

Keluhan tersebut disampaikan oleh salah satu *warga RW 09 (Cecep)* yang menyoroti kondisi penumpukan sampah di wilayah RW 07 yang menimbulkan bau tidak sedap, berpotensi mengganggu kesehatan, serta berdampak pada lingkungan sekitar termasuk area sarana ibadah.

Viralnya keluhan tersebut memicu percepatan penanganan di lapangan. Kasi Ekbang Kelurahan Jembatan Besi, Ariando, SH, bersama Pengawas LH Kecamatan Tambora, Edi, langsung turun memimpin proses pengangkutan sampah sejak pagi hingga siang hari, meskipun masih dalam suasana H+3 Lebaran.

Penanganan dilakukan melalui kolaborasi lintas unsur yang melibatkan:

•• Petugas PPSU
•• Dinas Lingkungan Hidup
•• Armada truk dan alat berat
•• serta dukungan Damkar dalam proses pembersihan akhir

Para petugas bekerja tanpa henti di tengah keterbatasan dan kelelahan hingga akhirnya tumpukan sampah berhasil diangkut dan lokasi kembali bersih ( *clean* ).

Di sisi lain, kondisi ini juga memunculkan dinamika di masyarakat. Di tengah suasana libur Lebaran, terdapat perbedaan pandangan terkait situasi lapangan. Namun disayangkan, saat proses tindak lanjut (TL) dilakukan, pihak yang sebelumnya menyampaikan keluhan tidak terlihat hadir untuk memberikan dukungan langsung di lokasi.

Sementara itu, pihak RW 07 sebagai titik penampungan telah menyampaikan tanggung jawab dan klarifikasi bahwa keterbatasan waktu, jarak, serta kondisi libur menjadi kendala dalam penanganan awal. Koordinasi tetap dilakukan melalui komunikasi jarak jauh.

Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa penyampaian aspirasi masyarakat harus diiringi dengan dukungan nyata dan keterlibatan langsung, serta pentingnya menjaga keseimbangan informasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Keberhasilan penanganan ini akhirnya menjadi bukti bahwa kolaborasi lapangan tetap menjadi kunci utama, bahkan di tengah tekanan publik dan situasi libur panjang.

Johan & Tim

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *